Selasa, 02 Juli 2013

PROSEDUR PENGEMBANGAN EVALUASI PEMBELAJARAN



BAB I
PENDAHULUAN
A.   Latar belakang
Keberhasilan suatu kegiatan evaluasi akan ipengaruhi pula oleh kebehasilan evaluator dalam melaksanakan prosedur evaluasi. Prosedur yang dimaksud ialah langkah-langkah pokok yang harus ditempuh dalam kegiatan evaluasi. Dalam literatur evaluasi banyak dijumpai prosedur evaluasi sesuai dengan pandangannya masing-masing. Dalam makalah ini, prosedur pengembangan evaluasi pembelajaran terdiri atas : perencanaan evaluasi, pelaksanaan evaluasi, monitor pelaksanaan evaluasi. Disamping itu,baik buruk nya evaluasi ada ditangan evaluator, yaitu guru yang melaksanakan proses pembelajaran dalam suatu bidang studi/mata pelajaran atau tim khusus yang dibentuk untuk melakukan evaluasi program pembelajaran secara keseluruhan.
B.   Rumusan masalah  
Adapun rumusan masalah pada makalah ini ialah:
1.      Mengapa diperlukan perencanaan evaluasi ?
2.      Apa maksud dan tujuan pelaksanaan evaluasi ?
3.      Jelaskan tujuan dan fungsi monitor pelaksanaan evaluasi ?








BAB II
PEMBAHASAN
PROSEDUR PENGEMBANGAN EVALUASI PEMBELAJARAN
A.   Perencanaan evaluasi
Dalam melaksanaan suatu kegiatan tentunya harus sesuai dengan apa yang diencanakan. Hal ini di maksudkan agar hasil yang diperoleh dapat lebih maksimal. Namun, banyak juga  orang melaksanakan suatu kegiatan tanpa perencanaan yang jelas sehingga hasilnya pun kurang maksimal oleh sebab itu, seorang evaluator harus dapat membuat perencanaan evaluasi dengan baik. Yang perlu dilakukan dalam kegiatan evaluasi adalah membuat perencanaan. Perencanaan ini penting karna akan mempengaruhi langkah-langkah selanjut nya, bahkan mempengaruhi keefektifan prosedur evaluasi secara menyeluruh. Implikasinya adalah perencanaa evaluasi harus di rumuskan secaa jelas dan spesifik,terurai dan komprehensif sehingga perencanaan tersebut bermakna dalam menentukan langkah-langkah selnjutnya.
1.      Pentingya analisis kebutuhan
Pada dasarnya, analisis kebutuhan merupakan bagian integral dari sistem pembelajaran secara keseluruhan. Analisis kebutuhan dapat digunakan untuk menyelesaikan masalah-masalah pembelajaran . melalui analisis kebutuhan, evaluator akan memperoleh kejelasan masalah dalam pembelajaran sehingga dapat memberikan rekomendasi kepada pembuat atau penentu kebijakan. Jadi, Analisis kebutuhan adalah suatu poses yang dilakukuan oleh seseorang ,untuk mengidentifikasi kebutuhan dan menentukan skala prioritas pemecahannya.
Hal penting yang harus dipahami evaluator adalah ketika melakukan analisis kebutuhan dalam pembelajaran hendaknya dimulai dari peserta didik, kemudian komponen-komponen yang terkait dengannya. Perencanaan evaluasi dapat ditinjau dari dua pendekatan, yaitu:
·         Perencanaan program pembelajaran
·         Pendekatan hasil belajar
a.       Menentukan tujuan penilaian
Tujuan penilaian ini harus dirumuskan secara jelas dan tegas serta ditentukan sejak awal, karena menjadi dasar untuk menentukan ,arah,ruang lingkup materi, jenis/model, dan karakter alat penilaian. Tujuan penilaian jangan terlalu umum sehingga tidak menuntun guru dalam menyusun soal.  Dalam penilaian hasil belajar, ada empat  kemunkinan tujuan penilaian yaitu:
-          Untuk memperbaiki kinerja atau poses pembelajaran (formatif)
-          Untuk menentukan keberhasilan peserta didik (sumatif)
-          Untuk mengidentifikasi kesulitan belajar peserta didik dalam proses pembelajaran (diagnostik)
-          Untuk menempatkan posisi peserta didik sesuai dengan kemampuannya (penempatan)

b.      Mengidentifikasi kompetensi dan hasil belajar
Kompetensi adalah pengetahuan,keterampilan,sikap,dan nilai-nilai yang direfleksikan dalam kebiasaan berfikir dan bertindak. Peserta didik di anggap kompeten apabila dia memiliki pengetahuan,keterampilan,sikap dan nilai-nilai untuk melakukan sesuatu setelah mengikuti proses pembelajaan. Dalam kurikulum berbasis kompetensi, semua jenis kompetensi dan hasil belajar sudah dirumuskan oleh tim pengembang kuikilim, seperti standar kompetensi,kompetensi dasar,hasil belajar dan indikator.jadi guru tinggal mengidentifikasi kompetensi mana yang akan di nilai.
c.       Menyusun kisi-kisi
Penyusunan kisi-kisi dimaksudkan agar materi penilaian betul-betul reprepesantif dan elevan dengan materi pelajaran yang sudah di berikan oleh guru kepada peserta didik. Jika materi penilaian tidak relevan dengan materi pelajaran yang telah diberikan,maka akan berakibat hasil penilaian itu kurang baik.begitu juga materi penilaian terlalu banyak dibandingkan dengn materi pelajaran, maka akan berakibat sama. Untuk itu guru haus menyusun kisi-kisi.
Kisi-kisi adalah fomat pemetaan soal yang menggambarkan distribusi item untukberbagai topik atau pokok bahasan berdasarkan jenjang kemampuan tertentu. Fungsi kisi-kisi adalah pedoman untuk menulis soal atau merakit soal menjadi perangkat tes.  Sebenarnya format kisi-kisi tidak ada yang baku, karna itu banyak model format yang dikembangkan para pakar evaluasi.format kisi-kisi soal dibagi 2 komponen pokok,yaitu komponen identitas dan komponen matriks.
 Salah satu unsur penting dalam komponen matriks adalah indikator. Indikator adalah rumusan pernyataan sebagai ukuran spesifik yang menunjukkan ketercapaiaan kompetensi dengan menggunakan kata kerja operasional (KKO). Manfaatnya ialah guru dapat memilih,materi,metode,dan sumber belajar yang tepat sesuai dangan kompetensi yang telah di tetapkan.
d.      Mengembangkan draf instrumen
Mengembangkan draf instumen penilaian merupkan salah satu langkah penting dalam prosedur penilaian. Instrumen penilaian dapat disusun dalam bentuk tes maupun non tes. Dalam bentuk tes bearti guru harus membuat soal. Sedangkan dalam bentuk non tes, guru dapat membuat angket,pedoman observasi,pedoman wawancara,studi dokumentasi,skala sikap,penilaian bakat,minat,dsb.
e.       Uji coba  dan analisis soal
Jika semua soal sudah di susun dengan baik, maka perlu diujiocobakan terlebih dahulu di lapangan. Tujuannya untuk mengetahui soal-soal mana yang perlu di ubah,diperbaiki,bahkan dibuang sama sekali,serta soal-soal mana yang baik  untu dipergunakan selanjutnya. Dalam melaksanakan uji coba soal, ada beberapa hal yang harus diperhatikan, antara lain:
·         Ruangan tempatnya hendaknya diusahakan seterang mungkin, jika perlu dibuat papan pengumuman diluar aga orang lain tahu bahwa ada tes sedang berlangsung.
·         Perlu disusun tata tertib pelaksanaan tes, baik yang berkenaan dengan peserta didik,guru,pengawas maupun teknis pelaksanaan tes.
·         Para pengawas harus mengotrol pelaksanaan tes dengan ketat, tewtapi tidak menganggu suasana tes
·         Watu yang digunakan harus sesuai dengan banyaknya soal yang diberikan.
·         Peserta didik harus benar-benar patuh dengan semua petunjuk dan perintah dai penguji.
·         Hasil uji coba hendaknya diolah,dianalisis,dan diadministrasikan dengan baik.
f.       Revisi dan merakit soal (instumen baru)
Setelah diuji coba dan dianalisis,keudian di revisi sesuai dengan proporsi tingkat kesukaran soal dan daya pembeda. Berdasarkan hasil revisi soal, barulah dilakukan perakitan soal menjadi suatu instrumen yang terpadu. Untuk itu, semua hal yang dapat memengaruhi validitas skor tes,seperti nomor urut soal,pengelompokan bentuk soal,penataan soal,dan sebagainya.
B.   Pelaksanaan Evaluasi
Pelaksanaan evaluasi atinya bagaimana caa melaksanakan evaluasi sesuai dengan perencanaan evaluasi. Dalam perencanaan evaluasi telah di singgung semua hal yang berkaitan dengan evaluasi. Pelaksanaan evaluasi sengat bergantung pada jenis evaluasi yang digunakan. Dalam pelaksanaan tes maupun  nontes tersebut akan berbeda satu dangan lainnya, sesuai dengan tujuan dan fungsinya masing-masing.
Dalam pelaksanaan tes lisan , misalnya guru harus memperhatikan tempat tes diadakan. Tempatnya harus tenang, enak  dipandng dan tidak menyeramkan,sehingga peserta didik tidak takut dan gugup. Guru haus dapat menciptakan suasana yang kondusif dan komunikatif, tetapi bukan berarti menciptakan suasana tes lisan menjadi suasana diskusi, debat atau ngobrol santai. 
Ada beberapa hal yang memungkinkan timbulnya kesalahan-kesalahan dalam pengumpulan data yaitu sbb :
1.      Kesalahan-kesalahan yang mingkin ditimbulkan karena kurang sempurnanya instrumen evaluasi.
2.      Kesalahan-kesalahan yang mungkin ditimbulkan oleh kurang sempurnanya prosedur pelaksanaan evaluasi yang dilakukan.
3.      Kesalahan tang mungkin ditimbulnya oleh kurang sempurnanya cara pencatatan hasil evaluasi.
C.   Monitor Pelaksanaan Evaluasi
Langkah ini dilakukan untuk melihat apakah pelaksanaan evaluasi pembelajaran telah sesuai dengan perancanaan evaluasi yang ntelah ditetapkan atau belum. Tujuannya untuk mencegah hal-hal yang negatif dan meningkatkan efisiensi pelaksanaan evaluasi. Monitoring mempunyai dua fongsi. Pertama, untuk melihat elevansi pelaksanaan evaluasi dengan perencanaan evaluasi. Kedu, untuk melihat hal-hal apa yang terjadi selama pelaksanaan evaluasi tejadi.


BAB III
PENUTUP

A.   Kesimpulan
1.      suatu kegiatan tentunya harus sesuai dengan apa yang diencanakan. Hal ini di maksudkan agar hasil yang diperoleh dapat lebih maksimal.
2.      Pelaksanaan evaluasi atinya bagaimana caa melaksanakan evaluasi sesuai dengan perencanaan evaluasi. Dalam perencanaan evaluasi telah di singgung semua hal yang berkaitan dengan evaluasi. Pelaksanaan evaluasi sengat bergantung pada jenis evaluasi yang digunakan. Dalam pelaksanaan tes maupun  nontes tersebut akan berbeda satu dangan lainnya, sesuai dengan tujuan dan fungsinya masing-masing.
3.      Tujuannya untuk mencegah hal-hal yang negatif dan meningkatkan efisiensi pelaksanaan evaluasi. Monitoring mempunyai dua fongsi. Pertama, untuk melihat elevansi pelaksanaan evaluasi dengan perencanaan evaluasi. Kedu, untuk melihat hal-hal apa yang terjadi selama pelaksanaan evaluasi tejadi.

Jumat, 28 Juni 2013

FAKTOR PENDORONG DAN PENGHAMBAT SISWA DALAM BELAJAR

FAKTOR PENDORONG DAN PENGHAMBAT SISWA DALAM BELAJAR
A.   Faktor Pendorong Belajar
Biasanya faktor pendorong siswa belajar ada dua hal yaitu :
1.      Faktor internsik
Yang mana faktor intern ini muncul dari dirinya sendiri berkat motivasi dirinya dengan berkeinginan untuk belajar tanpa ada suruhan atau motivasi dari orang lain, tetapi motivasi itu muncul sendiri dari diri pribadi sendiri. Sebab-sebab faktor intern pendorong belajar ialah :
·         Motivasi
·         Minat
·         Bakat
·         Keninginan sendiri untuk lebih maju
Dengan sebab-sebab itulah faktor pendorong belajar muncul dari faktor intern (dari dalam). Dengan faktor intern inilah siswa itu dalam belajarnya aman dan cepat mengerti, karena sifat berkeinginan belajar itu muncul dari diri sendiri tidak dari orang lain.
2.      Faktor eksternsik
Faktor enkstren ini ialah yang mana faktor pendorong siswa dalam belajar ini muncul dari bimbingan oang lain atau motivasi muncul dari orang lain, tidak dai diri sendiri. Yang mana faktor pendorong siwa ekstern ini muncul dari berbagai pihak yaitu :
·         Keluarga
Yang mana faktor keluarga yang banyak memberi motivasi kedalam diri anak tesebut selagi keluarga itu keluaga yang peduli kepada pendidikan dan segala macam nya terhadap anak.
·         Lingkungan masyarakat
Faktor lingkungan masyarakat ini juga bisa memberikan sifat yang buruk dan baik, tetapi kalau lingkungan masyarakat yang baik, bisa mempengaruhi faktor pendorong siswa iru untuk lebih giat lagi belajanya.
·         Teman sebaya
Teman sebaya bisa mempengaruhi siswa itu untuk menjadi lebih baik atau lebih buruk dalam motivasi belajar, karena berkat teman di sekolah lah yang banyak mempengaruhi siswa untuk lebih baik dan buruk. Apabila seseoang mendapat teman sebaya yang baik, maka motivasi belajar anak itu akan lebih baik karena motivasi teman yang baik, begitu pula sebaliknya.
B.   Faktor Penghambat Belajar
Secara umum faktor-faktor yang mempengaruhi proses belajar anak dibedakan menjadi faktor internal dan faktor eksternal. Kedua faktor tersebutlah yang mempengaruhi hasil belajar anak. Berikut akan diuraikan tentang kedua faktor penghambat belajar.
1.      Faktor Internal
Faktor internal merupakan faktor yang berasal dari dalam diri individu dan dapat mempengaruhi hasil belajar individu. Faktor internal meliputi faktor fisiologis dan biologis serta faktor psikologis.
a.       Faktor fisiologis dan biologis
Masa peka merupakan masa mulai berfungsinya factor fisiologis pada tubuh manusia. Faktor fisiologis adalah faktor yang berhubungan dengan kondisi fisik individu. Faktor ini dibedakan menjadi 2, yaitu:
·         Keadaan tonus jasmani
Keadaan tonus jasmani sangat mempengaruhi aktivitas belajar anak. Kondisi fisik yang sehat dan bugar akan memberikan pengaruh positif terhadap proses belajar. Sedangkan kondisi fisik yang lemah atau sakit akan menghambat tercapainya hasil belajar yang maksimal.
·         Keadaan fungsi jasmani atau fisiologis
Anak yang memiliki kecacatan fisik (panca indera atau fisik) tidak akan dapat mencapai hasil belajar yang maksimal. Meskipun juga ada anak yang memiliki kecacatan fisik namun nilai akademiknya memuaskan. Kecacatan yang diderita anak akan mempengaruhi psikologisnya, diantaranya:
-          sulit bergaul karena memiliki perasaan malu dan minder akan kekurangannya,
-          ada perasaan takut diejek teman,
-           merasa tidak sempurna dibandingkan dengan teman-teman lain.
b.      Faktor psikologis
Faktor psikologis adalah faktor yang berasal dari keadaan psikologis anak yang dapat mempengaruhi proses belajar. Beberapa faktor psikologis utama yang mempengaruhi proses belajar anak adalah kecerdasan siswa, motivasi, minat, sikap dan bakat.
·         Kecerdasan/ intelegensi siswa
Kecerdasan merupakan faktor psikologis yang paling penting dalam proses belajar anak, karena  menentukan kualitas belajar siswa. Semakin tinggi intelegensi seorang individu, semakin besar peluang individu untuk meraih sukses dalam belajar. Oleh karena itu, perlu bimbingan belajar dari orang lain seperti orang tua, guru,dan sebagainya. Sebagai faktor psikologis yang penting dalam mencapai kesuksesan belajar, maka pengetahuan dan pemahaman tentang kecerdasan perlu dimiliki oleh setiap calon guru professional, sehingga mereka dapat memahami tingkat kecerdasannya.
·         Motivasi
Motivasi adalah salah satu factor yang mempengaruhi keefektifan kegiatan belajar siswa. Motivasi yang mendorong siswa ingin melakukan kegiatan belajar. Para ahli psikologi mendefisikan motivasi sebagai proses di dalam diri individu yang aktif, mendorong, memberikan arah, dan menjaga perilaku setiap saat (Slavin, 1994). Motivasi diartikan sebagai pengaruh kebutuhan-kebutuhan dan keinginan terhadap intensitas dan perilaku seseorang.
·         Minat
Secara sederhana minat merupakan kecenderungan kegairahan yang tinggi atau besar terhadap sesuatu. Menurut Reber (Syah, 2003) minat bukanlah istilah yang populer dalam psikologi karena disebabkan ketergantungannya terhadap berbagai faktor internal lainnya, seperti pemusatan perhatian, keinginan, motivasi, dan kebutuhan.
·         Sikap
Sikap siswa dalam belajar dipengaruhi oleh perasaan senang atau tidak senang pada performan guru, pelajaran, atau lingkungan sekitarnya. Dan untuk mengantisipasi munculnya sikap yang negatif dalam belajar, guru sebaiknya berusaha untuk menjadi guru yang profesional dan bertanggungjawab terhadap profesi yang dipilihnya. Dengan profesionalitas seorang guru akan berusaha memberikan yang terbaik bagi  siswanya, berusaha mengembang kepribadian sebagai seorang guru yang empatik, sabar, dan tulus kepada muridnya, berusaha untuk menyajikan pelajaran yang diampunya dengan baik dan menarik sehingga membuat siswa dapat mengikuti pelajaran dengan senang dan tidak menjemukan, meyakinkan siswa bahwa bidang studi yang dipelajarinya bermanfaat bagi siswa.
·         Bakat
Pada dasarnya setiap orang mempunyai bakat atau potensi untuk mencapai prestasi belajar sesuai dengan kemampuannya masing-masing. Karena itu bakat juga diartikan sebagai kemampuan dasar individu untuk melakuakan tugas tertentu tanpa tergantung upaya pendidikan dan latihan. Individu yang telah mempunyai bakat tertentu, akan lebih mudah menyerap informasi yang berhubungan dengan bakat yang dimilikinya. Misalnya siswa yang berbakat dibidang bahasa akan lebih mudah mempelajari bahasa-bahasa yang lain selain bahasanya sendiri.
Selain itu yang menjadi faktor psikologis lainnya adalah disiplin. Disiplin diri adalah kemampuan diri yang kuat untuk mempertahankan diri dari bermacam-macam gangguan dalam belajar. Misal, seorang anak akan tetap belajar walaupun ada acara televisi yang menarik.
2.      Faktor Eksternal
Selain faktor internal, faktor eksternal juga dapat mempengaruhi proses belajar anak. Faktor eksternal yang mempengaruhi belajar dapat digolongkan menjadi faktor lingkungan sosial dan non-sosial (Syah, 2003):
a.       Lingkungan sosial
Lingkungan sosial anak dapat menimbulkan kesulitan dalam  belajar. Linkungan sosial dibagi manjadi tiga, yaitu:
·         Lingkungan sosial sekolah
Pendidikan di sekolah bukan sekedar bertujuan untuk melatih siswa supaya “siap pakai” untuk kerja atau mampu meneruskan ke jenjang pendidikan berikutnya atau mencapai angka rapor, melainkan untuk membentuk peserta didik manjadi manusia sejati. Proses pembentukan manusia sejati sudah mulai sejak anak hidup dalam keluarga, kemudian dilanjutkan di sekolah, di masyarakat, di dunia kerja dan di lingkungan sekitar.
Di sekolah, untuk membentuk manusia sejati ada salah satu harapan dari pendidik yaitu Self Regulated Learner (SRL). SLR adalah murid-murid yang memiliki kemampuan belajar tinggi dan disiplin sehingga mereka membuat belajar itu lebih mudah dan menyenangkan. Namun harapan itu tidak akan terwujud jika lingkungan sekolah seperti guru, administrasi, dan teman-teman sekelas tidak mendukung. Faktor-faktor yang dapat menghambat anak belajar di sekolah adalah:
-          Metode mengajar
Dalam mengajar guru memerlukan metode yang cocok. Metode ini dimaksudkan agar materi yang disampaikan oleh guru terasa menarik dan siswa mudah menyerapnya.
o   Kurikulum yang tepat
o   Penerapan disiplin
o   Hubungan siswa dengan guru maupun teman
o   Tugas rumah yang terlalu banyak
o   Sarana dan prasarana
b.      Lingkungan sosial masyarakat
Kondisi lingkungan masyarakat tempat tinggal siswa juga mempengaruhi proses belajar anak. Lingkungan siswa yang kumuh, banyak pengangguran, dan banyak teman sebaya di lingkungan yang tidak sekolah dapat menjadi faktor yang menimbulkan kesukaran belajar bagi siswa. Misalnya siswa tidak memiliki teman belajar dan diskusi maka akan merasa kesulitan saat akan meminjam buku atau alat belajar yang lain.
c.       Lingkungan keluarga
Keluarga merupakan tempat pertama kali anak belajar. Oleh karena itu, lingkungan keluarga sangat mempengaruhi proses belajar anak. Faktor dari keluarga yang dapat menimbulkan permasalahan belajar anak adalah:
·         Pola asuh orang tua
·         Hubungan orang tua dan anak
·         Keadaan ekonomi keluarga
·         Keharmonisan keluarga
·         Kondisi rumah
d.      Teman sebaya
Teman sebaya dapat mempengaruhi proses belajar anak, baik teman sebaya dalam lingkup sekolah maupun tempat tinggal atau masyarakat. Pada usia anak-anak dan remaja, jiwa yang dimiliki masih labil, emosional, pemarah, dan juga rasa egois sangat besar. Biasanya tejadi kekerasan di sekolah yang dilakukan oleh teman sebaya atau kawan bermain. Hal tersebut disebabkan oleh perbedaan atau bahkan persaingan yang menimbulkan sikap saling mengejek, mendorong, memukul bahkan kekerasan verbal.
Kekerasan sebagai gangguan emosi pada dasarnya tidak hanya menyerang orang lain, tetapi juga menyerang diri sendiri. Persoalan kekerasan dilihat dari lapangan psikologi pendidikan mencoba mengarahkan pada lingkungan sekolahtempat anak belajar berinteraksi dengan teman sebaya.

Teman sebaya  yang seharusnya bisa untuk memperoleh informasi dan perbandingan tentang dunia sosisal, prinsip keadilan malalui konflik yang terjadi dengan teman, bisa untuk belajar tentang konsep gender juga dapat berpengaruh negatif bagi anak. Misalnya kebiasaan-kebiasaan buruk yang dimiliki kawan sebayanya akan mudah mempengaruhi diri anak. Kebiasaan buruk yang mudah ditiru biasanya dari ucapan atau tindakan.

Artikel SIFAT KHAS INDIVIDU DALAM AKTIVITAS BELAJAR

SIFAT KHAS INDIVIDU DALAM AKTIVITAS BELAJAR
Setiap orang itu dilahirkan sebagai makhluk individu. Individu berasal dari kata latin “individuum”, yang artinya “yang tak terbagi”. Menurut Dr. A. Lysen, kata individu bukan berarti manusia sebagai suatu keseluruhan yang tak dapat dibagi, melainkan sebagai suatu kesatuan yang terbatas yaitu sebagai manusia perseorangan. Jadi individu merupakan manusia perseorangan atau suatu makhluk yang sebagai kesatuan terbatas.
Jika kalau kita perhatikan orang-orang yang ada di sekeliling kita, kita akan menemukan bahwa tidak ada satu manusia pun di dunia ini yang sama persis dalam segala hal dengan orang lain. Baik dari segi fisik mungkin mirip, misalnya pada orang kembar, tetapi dari segi kepribadian atau sifatnya itu sangat sulit kita menemukan orang yang sama persis atau sama sifat dan kepribadiannya dengan orang lain. Karena setiap orang berbeda atau setiap individu adalah manusia yang khas, memiliki karakter dan sifat yang berbeda tidak ada yang sama.
Setiap satu individu itu senantiasa berhubungan dengan individu yang lain, karena yang mana individu yang satu dengan yang lainnya memiliki ketergantungan. Dengan kata lain, setiap individu saling membutuhkan. Tidak ada manusia sebagai individu yang mampu hidup sendiri dari ia sejak lahir sampai dewasa tanpa ada bantuan dengan orang lain.
 Begitu pula dalam proses belajar. Dalam proses belajar, kita akan banyak membutuhkan bantuan dari orang lain pasti sangat membutuhkan bantuan orang lain. Karena suatu proses pembelajaran atau pendidikan itu tidak akan mungkin dilakukan oleh satu individu saja. Pasti akan ada individu-individu yang lain terkait dan berperan dalam proses pembelajaran atau pendidikan tersebut dalam membantu kita individu.
Yang dimaksud dengan pendidikan disini adalah tidak hanya pendidikan formal saja, tetapi juga ada pendidikan non-formal. Yang mana pendidikan formal adalah jalur pendidikan yang terstruktur dan berjenjang yang terdiri atas pendidikan anak usia dini, pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan tinggi seperti TK, SD, SMP, SMA, dan UNIVERSITAS atau PERGURUAN TINGGI lainnya dan Pendidikan formal terdiri itu dari pendidikan formal yang berstatus negeri dan pendidikan fomal berstatus swasta.
Individu-individu yang berperan dalam pendidikan formal adalah pendidik dan peserta didik. Yang termasuk pendidik adalah guru atau dosen. Sedangkan yang dapat disebut peserta dididk adalah siswa ataupun mahasiswa.
Pendidikan non-formal adalah jalur pendidikan di luar pendidikan formal yang dapat berupa pendidikan langsung dan tidak langsung. Pendidikan langsung yang dimaksud disini adalah berupa kursus maupun bimbingan belajar seperti kursus Bahasa Inggris, matematika DLL. Sedangkan yang dimaksud pendidikan tidak langsung adalah pendidikan yang didapat secara tidak langsung dari proses sosialisasi atau interaksi dengan individu lain di lingkungan sekitar yang mana Individu-individu yang berperan dalam pendidikan non-formal ini adalah individu-individu yang berada di lingkungan sekitar kita. Baik orang tua, keluarga, sahabat, teman sebaya, maupun masyarakat.
A.    Sifat khas individu
Dalam setiap individu mempunyai sifat khas/khusus dalam setiap aktivitas belajar di sekolah atau dimanpum berada, karena kepribadian yang yang satu dengan yang lainnya tidaki sama, ada yang sama tetapi pasti ada sesuatu yang tidak sama sedangkan anak kembar aja kepribadiaanya saja beda. Kalau sifat khas individu dalam aktivitas belajar, ada dari segi positif dan negatif nya.
Adapun dari segi positif ialah sbb :
1.      Selalu menghargai gurunya dalam belajar
Seorang individu dalam setiap belajarnya selalu menghargai guunya, ia menganggap guu adalah seorang orang tua pengganti di sekolah, yang mana guru itu yang selau membimbing di sekolah dan membinanya supaya lebih hebat atapun menjadi ia orang yang lebih berguna lagi bagi bangsa negara dan agama.
2.      Selalu memperhatikan guru mengajar
Disetiap aktivitas belajarnya seorang siswa itu  sangat memperhatikan seorang gurunya dalam mengajar kepada muud-muridnya, karena ia menganggap tanpa seorang guru ia tidak tahu apa-apa atau ilmu yang ada didunia ini. Contoh :
a.        Dia sedang memperhatikan contoh yang sedang diberikan oleh dosennya.
b.       Dengan penuh perhatian dia mengikuti kuliah yang diberikan oleh dosen yang baru iru
Kedua contoh diatas mempergunakan kata perhatian. Arti kata tersebut, baik di masyarakat dalam hidup sehari-hari maupun dalam bidang psikologi kira-kira sama. Karena itulah maka definisi mengenai perhatian itu yang diberikan oleh para ahli psikologi juga ada dua macam, yaitu kalau diambil intinya saja dapat dirumuskan sebagai berikut:
-          Perhatian adalah pemusatan tenaga psikis tertuju pada suatu objek.
-          Perhatian adalah banyak sedikitnya kesadaran yang menyadari sesuatu aktivitas yang dilakukan.

3.      Selalu mengamati guru dalam belajar
Dalam setiap aktivitas belajar seorang individu (murid) harus memperhatikan gurunya mengajar, selain mengajar seorang murid itu haus mengamati apa yang disampaikan seorang guru terhadap dirinya. Bahwa setiap pelajaran yang diberikan harus diamati supaya mengerti pelajaan tersebut. Karena setiap orang yang belajar selalu memperhatikan guru atau dosennya ia tidak amati ilmu yang di berikan kepanya seorsng individu itu tidak akan menyeap kepada otaknya menyeluruh, akan cepat hilang atau lupa ilmu yang sudah diberikan tersebut.
Adapun dari segi negatifnya ialah sebagai berikut :
1.      Tidak menghargai guru
Kebanyakan seorang individu dalam aktivitasnya banyak yang tidak menghargai gurunya, ini disebabkan ia merasa sudah lebih tahu dari gurunya jadi ia tidak menhargai gurunya.
2.      Tidak memperhatikan gurunya mengajar
Seorang individu tidak mempehatikan gurunya mengajar dikarenakan pikirannya hanya terfokuskan dengan luar ruangan atau hanya dengan bermain-main saja, disebabkan individu itu mempunyai masalah-masalah yang di hadapinya ataupun karena pengaruh keaktivitasnya pyang hanya ingin bersenang-senang, tidak mau belajar DLL.
3.      Tidak mengamati gurunya mengajar
Apabila seorang individu tidak memperhatikan gurunya mengajar, pasti ia tidak akan bisa mangamati pelajaran tersebut, karena memperhatiakan dan mengamati pelajaran adalah suatu kombinasi yang ideal untuk cepatnya mengerti sebuah pelajaran.

B.     Sebab-sebab
Berbagai hal sebab-sebab sifat khas individu dalam aktivitas belajarnya, dan biasanya sifat individu dalam aktivitasnya belajar yaitu :
1.      Faktor intrensik
Yaitu faktor yang mana motivasi belajar siswa itu muncul di dalam dirinya sendiri, kalau seorang individu itu ingin mendapatkan ilmu yang dibeikan seorang guru tersebut ua harus menghargai, mempehatikan , dan mengamati gurunya dalam aktivitas belajar. Kalau tidak ada moivasi belajar individu itu maka ia tidak selalu menghargai, menmperhatikan, dan mengamati gurunya.

2.      Faktor ekstrensik
Faktor ini adalah yang mana motivasi belajar siswa itu muncul dari orang lain, bisa juga motivasi belajar siswa itu hilang karena orang lain seperti :
·         Orang tua
Keluarga terutama orang tua, memiliki peranan yang sangat penting dalam proses pendidikan. Karena pendidikan pertama dimulai dari lingkungan keluarga. Ketika seorang anak lahir, ia belum tahu apa-apa, belum mengenal siapa dirinya. Orang tualah yang mengasuhnya, merawatnya, dan secara tidak langsung memberikan pendidikan bagi anak tersebut. Sehingga ia mulai bisa berbicara, merangkak, bahkan berjalan.
Orang tua sebagai lingkungan pertama dan utama dimana anak berinteraksi sebagai lembaga pendidikan tertua, artinya disinilah dimulai suatu proses pendidikan. Lingkungan keluarga juga dikatakan lingkungan yang paling utama, karena sebagian besar kehidupan anak adalah di dalam keluarga, sehingga pendidikan yang paling banyak diterima anak adalah dari dalam keluarga.
Keluarga merupakan tempat pertama kali anak belajar. Oleh karena itu, lingkungan keluarga sangat mempengaruhi proses belajar anak. Faktor dari keluarga yang dapat menimbulkan permasalahan belajar anak adalah:
-          Pola asuh orang tua
-          Hubungan orang tua dan anak
-          Keadaan ekonomi keluarga
-          Keharmonisan keluarga
-          Kondisi rumah
·         Guru atau dosen
Efektivitas dan efisiensi belajar individu di sekolah sangat bergantung kepada peran guru atau pendidik. bahwa dalam pengertian pendidikan secara luas, seorang guru yang ideal seyogyanya dapat berperan sebagai :

-          Konservator (pemelihara) system nilai yang merupakan sumber norma kedewasaan;
-          Inovator (pengembang) system nilai ilmu pengetahuan;
-          Transmitor (penerus) sistem-sistem nilai tersebut kepada peserta didik;
-          Transformator (penterjemah) sistem-sistem nilai tersebut melalui penjelmaan dalam pribadinya dan perilakunya, dalam proses interaksi dengan sasaran didik;
-          Organisator (penyelenggara) terciptanya proses edukatif yang dapat dipertanggungjawabkan, baik secara formal (kepada pihak yang mengangkat dan menugaskan) maupun secara moral (kepada sasaran didik, serta Tuhan yang menciptakannya).
Pendidikan di sekolah bukan sekedar bertujuan untuk melatih siswa supaya “siap pakai” untuk kerja atau mampu meneruskan ke jenjang pendidikan berikutnya atau mencapai angka rapor, melainkan untuk membentuk peserta didik manjadi manusia sejati. Proses pembentukan manusia sejati sudah mulai sejak anak hidup dalam keluarga, kemudian dilanjutkan di sekolah, di masyarakat, di dunia kerja dan di lingkungan sekitar.
·         Lingkungan
Kondisi lingkungan masyarakat tempat tinggal siswa juga mempengaruhi proses belajar anak. Lingkungan siswa yang kumuh, banyak pengangguran, dan banyak teman sebaya di lingkungan yang tidak sekolah dapat menjadi faktor yang menimbulkan kesukaran belajar bagi siswa. Misalnya siswa tidak memiliki teman belajar dan diskusi maka akan merasa kesulitan saat akan meminjam buku atau alat belajar yang lain.
·         Teman sebaya
Lingkungan yang baik akan membantu anak untuk belajar. Di lingkungan yang kondusif, anak akan lebih mudah untuk menerima pelajaran. Individu-individu yang berada di lingkungan sekitar juga sangat berperan dalam proses pendidikan seorang anak.
Teman sebaya atau sahabat sangat berperan dalam pembelajaran sosialisasi bagi anak. Proses pembelajaran dalam memasuki kelompok sebaya merupakan proses pembelajaran kepribadian sosial yang sesungguhnya. Anak-anak belajar cara mendekati orang asing, malu-malu atau berani, menjauhkan diri atau bersahabat. Anak belajar bagaimana memperlakukan temannya. Ia juga belajar apa yang disebut jujur saat ia melakukan permainan bersama teman sebayanya.
Teman sebaya dapat mempengaruhi proses belajar anak, baik teman sebaya dalam lingkup sekolah maupun tempat tinggal atau masyarakat. Pada usia anak-anak dan remaja, jiwa yang dimiliki masih labil, emosional, pemarah, dan juga rasa egois sangat besar. Biasanya tejadi kekerasan di sekolah yang dilakukan oleh teman sebaya atau kawan bermain. Hal tersebut disebabkan oleh perbedaan atau bahkan persaingan yang menimbulkan sikap saling mengejek, mendorong, memukul bahkan kekerasan verbal.
Kekerasan sebagai gangguan emosi pada dasarnya tidak hanya menyerang orang lain, tetapi juga menyerang diri sendiri. Persoalan kekerasan dilihat dari lapangan psikologi pendidikan mencoba mengarahkan pada lingkungan sekolahtempat anak belajar berinteraksi dengan teman sebaya.



 DAFTAR PUSTAKA

·         Laura A.King(2010).Psikologi umum.Jakarta : Salemba Humanika 
·         Prof. Dr. Bimowalgito(2010).Psikologi umum.Yogyakarta : Andi Yogyakarta
·       http://id.wikipedia.org